Bulan Oktober ini adalah bulan Rosario, alangkah baik-nya apabila kita mempelajari sejarah Sendangsono, dengan literature dari :
http://sendangsono.info
http://id.wikipedia.org/wiki/Sendangsono
Awalnya, sebutan Sendangsono tidak untuk
menyebut suatu nama tempat. Sendangsono merupakan sebutan untuk sumber air yang
berada di bawah pohon Sono. Istilah Sendangsono merupakan gabungan dua kata, Sendang dan Sono . Sendang merupakan istilah Jawa untuk menyebut sumber air. Sono
adalah nama sebuah pohon (baca: Angsana). Oleh karena itu, Sendangsono
merupakan sebutan untuk mata air yang berada di bawah pohon Sono. Dulu, sebelum
nama Sendangsono dikenal, orang sering menyebut sumber air itu dengan sumber Semagung.
Dalam perkembangannya, orang mengenal dengan nama Sendangsono.
Secara geografis, Sendangsono berada di pegunungan Menoreh dan beralamatkan di
Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo,
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangsono berbatasan dengan Jawa Tengah
kira-kira 30 km dari Kota Magelang dan 15 km sebelah selatan Muntilan.
Sendangsono sebagai tempat ziarah merupakan momentum peristiwa lahirnya Gereja
(dibaca: umat katolik) di sekitar Kalibawang. Proses terbentuknya tempat ziarah
ini berkaitan erat dengan perkembangan umat katolik di sekitar Kalibawang.
Perkembangan umat katolik yang pesat mendorong lahir dan berkembangnya
Sendangsono.
Sebelum menjadi tempat ziarah yang berciri katolik, sumber air di bawah pohon
Sono dikenal sebagai tempat keramat. Konon, di tempat itu digunakan untuk
semedi. Masyarakat sekitar yakin ada roh-roh yang berdiam di tempat itu.
Menurut legenda, bila roh-roh terganggu, mereka akan mencelakai. Konon pula, di
pohon Sono itu berdiam seorang ibu yang bernama Dewi Lantamsari dan anak
tunggalnya Den Baguse Samijo. Dua makhluk itu menjadi “penguasa” daerah itu.
Menurut dongeng kuna juga, sumber air Semagung juga digunakan sebagai tempat
istirahat para bikshu yang mengadakan perjalanan dari Borobudur ke Boro atau
sebaliknya. Dulu Boro dikenal sebagai biaranya para bikshu meskipun sekarang
ini sudah tidak ada bekasnya. Memang bila dilihat dari jaraknya, sumber
Semagung ini berada di tengah-tengah antara Borobudur dan Boro.
Pada tanggal 14 Desember 1904, sumber Semagung dipilih sebagai tempat untuk
membaptis. Ketika orang-orang sekitar Semagung masuk agama katolik, sumber air
Semagung digunakan untuk membaptis (baca: inisiasi masuk katolik) mereka.
Tempat yang keramat itu diubah fungsinya. Sumber air Semagung tidak lagi
diperlakukan sebagai tempat tinggal roh-roh tetapi digunakan sebagai untuk
berjumpa dengan Tuhan.
Peristiwa baptisan itu menjadi awal mula lahirnya umat Katolik yang berciri
Jawa. Dan Sendangsono menjadi monumen sejarah berdirinya umat Katolik di
sekitar Kalibawang. Maka Sendangsono lahir karena umat Katolik lahir dan
berkembang di sana.
GOA MARIA LOURDES SENDANGSONO
Tanggal 14 Desember 1904, sumber Sendangsono diberkati oleh Rama van Lith SJ.
Sumber itulah yang digunakan untuk membaptis 173 orang di sekitar Sendangsono.
Menurut keyakinan katolik air yang sudah diberkati menjadi air suci.
Pada tahun 1923, ketika berkarya di Boro dan sekitarnya, Rama JB. Prennthaler
SJ mempunyai gagasan untuk menjadikan Sendangsono sebagai tempat suci karena
airnya sudah diberkati. Beliau mengusulkan didirikan gua untuk bersemayam Bunda
Maria yang tak bernoda. Bila Maria bertahta di Sendangsono, orang-orang dapat
berdoa kepadanya untuk minta perlindungan. Gagasan ini disambut baik oleh
penduduk sekitarnya.
Setelah mencapai kata sepakat, gagasan itu diwujudkan. Masyarakat bergotong
royong mencari batu, pasir dan batu kapur. Gua dibangun bersama-sama secara
bergotong royong. Patung Bunda Maria seberat 300 kg didatangkan dari Swiss dan
diturunkan di Sentolo Wates Kulon Progo. Dari Sentolo sampai Sendangsono
(kira-kira 30 km) dipikul bersama-sama.
Goa Maria Sendangsono diberkati pada tanggal 8 Desember 1929. Pemberkatan itu
bertepatan dengan perayaan 75 tahun peresmian dogma Maria yang dikandung tanpa
noda. Pada saat pemberkatan Rama JB. Prennthaler SJ mengatakan bahwa pendirian
goa Maria Sendangsono merupakan wujud syukur atas perlindungan Bunda Maria pada
karya misi di Kalibawang. Dengan demikian, Goa Maria Sendangsono merupakan monumen
peringatan 25 tahun karya misi katolik di Kalibawang.
Pada Peringatan 25 tahun
karya misi katolik di Kalibawang ini, Paus Pius XI memberikan penghargaan
kepada Bapak Barnabas Sarikrama atas jasanya dalam mengembangkan misi katolik
di Kalibawang.
Goa Maria ini didirikan terutama untuk mengucapkan terima kasih atas karya
Tuhan bagi umat Kalibawang. Maka dalam kotbahnya Rama JB. Prennthaler
mengingatkan umat agar jangan mencari mukjijat di Sendangsono. Yang harus
selalu dikumandangkan bila berziarah ke Sendangsono adalah mengucap syukur
kepada Tuhan yang Mahaesa lewat Bunda Maria karena telah melimpahkan rahmat dan
kemurahanNya kepada manusia. Dalam pemberkatan itu juga ada doa penyerahan yang
didoakan oleh Rama FX. Satiman SJ: Ibu Maria yang murni di Kalibawang
berkatilah dan lindungilah kami yang mengungsi ke hadapanmu.
Untuk mendukung suasana religius di sekitar Kalibawang, Rama JB. Prennthaler SJ
memberikan lonceng sebanyak 19 buah yang dibeli langsung dari Nederland.
Lonceng-lonceng itu dibunyikan 3 kali pada jam 6 pagi, 12 siang dan 6 sore.
Lonceng itu digunakan untuk menandai dan mengajak orang katolik berdoa. Saat
ini beberapa lonceng sudah hilang.
Pada tahun 1958 dibangun stasi (baca: rumah-rumah kecil) sebanyak 14 buah.
Stasi itu diberi arca jalan salib. Stasi itu dibangun dari Gereja Promasan
sampai Sendangsono (jaraknya kira-kira 1 km). Pembangunan stasi itu digunakan
sebagai sarana untuk membantu peziarah merenungkan hidupnya sekaligus persiapan
untuk bertemu dengan Tuhan lewat perantaraan Bunda Maria.
ARSITEKTUR SENDANGSONO
Pembangunan Sendangsono dilakukan secara bertahap. Awalnya pembangunan
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan agar layak sebagai tempat berdoa. Maka
bangunan-bangunan yang dihasilkan juga bertahap. Pembangunan tahap pertama adalah
goa, dilanjutkan dengan pembangunan stasi dan pembangunan kapel di samping goa.
Sejak tahun 1958-1969, tidak ada data pembangunan dan keadaannya masih gersang.
Sejak 1969, Rama YB. Mangunwijaya Pr. terlibat dalam perancangan pembangunan
Sendangsono. Melalui tangan Rama YB. Mangunwijaya Sendangsono menjadi tempat
yang indah, asri, sejuk dan tenang untuk berdoa.
Pada awal pembangunannya, Rama Mangunwijaya Pr tidak membuat kerangka dan arah
pembangunan (tidak ada grand design). Baru ketika Rama Mangunwijaya Pr
meninggal (1996), bangunan-bangunan itu ditafsirkan dan ditemukan
filosofi-filosofi tertentu.
Dengan memahami wastu citra Rama Mangunwijaya Pr, arsitektur Sendangsono dapat
dipahami secara lebih komplit. Secara garis besar, gaya pembangunan Sendangsono
menggunakan model rumah Jawa. Dalam tradisi Jawa bangunan rumah terdiri dari
pelataran, rumah depan, tengah dan belakang. Masing-masing bagian mempunyai
nilai dan fungsinya sendiri-sendiri.
Mirip dengan arsitektur gaya Jawa, arsitektur Sendangsono dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu jalan masuk, pelataran, dan daerah sakral.
Bagian jalan masuk ditandai dengan jalur jalan salib. Jalan salib ada dua
jenis: panjang dan pendek. Jalan salib panjang terdiri dari 14 stasi yang ada
di sepanjang jalur Gereja Promasan sampai Sendangsono. Sedangkan jalan salib
pendek berada di kompleks Sendangsono bagian utara. Baik jalan salib panjang
maupun pendek disediakan untuk membantu peziarah merenungkan diri dan
mempersiapkan hati untuk berdoa. Secara filosofis, jalan salib menggambarkan
perjalanan dan perjuangan hidup manusia dalam mencari dan mencapai kebahagiaan.
Pada jalan salib pendek, stasi-stasi itu dihiasi dengan ornamen bunga mawar.
Ornamen itu menggambarkan bahwa perjuangan manusia tidak akan sia-sia melainkan
mendapatkan nilai yang sangat berharga.
Bagian pelataran merupakan tempat untuk istirahat dan perjumpaan antar manusia.
Bagian pelataran ditandai dengan bangunan-bangunan rumah panggung.
Bangunan-bangunan juga tidak diberi warna khusus. Warna dominannya coklat, hitam
dan polos (tak berwarna). Rumah-rumah panggung digunakan untuk istirahat,
refreshing, diskusi dan lain-lain. Pelataran disusun dengan model trap
trapesium dan bukan trap bergaris.

Filosofinya, pelataran merupakan tempat
dialog. Dialog yang benar adalah dialog yang tidak mendasarkan pada strata
sosial. Setiap orang mempunyai kedudukan yang sama. Maka, trap trapesium
menunjang orang untuk berdialog secara setara.
Bagian sakral merupakan bagian yang pokok dari arsitektur Sendangsono. Bagian
ini terdiri dari dua yaitu pelataran dan bagian sentral. Pada bagian sakral,
pelataran diberi warna merah dan warna putih. Warna merah menggambarkan
keberanian dan tanda Roh Ilahi. Sedangkan warna putih mencerminkan kesucian.
Idealnya, setiap orang yang masuk pelataran yang berwarna merah dan putih
menyesuaikan diri dan membangun sikap hening, tenang dan mengarahkan hati pada
Tuhan. Pada bagian sentral ada bangunan Goa Maria dan Kapel Tri Tunggal
Mahakudus (Kapel Trinitas). Bagian sentral merupakan ruang pertemuan antara
manusia dengan Tuhannya melalui perantaraan Maria. Orang katolik menyakini
Maria sebagai Ibu Yesus sekaligus dapat menjadi perantara syukur dan permohonan
kepada Tuhan. Maria dihormati sebagai Ibu yang dapat menolong manusia yang
ingin dekat dengan Tuhan.
Meskipun dibangun dalam konteks budaya Jawa, bangunan-bangunan Sendangsono
tersebut mengaktualisasikan keyakinan iman kristiani. Bangunan-bangunan itu
antara lain:
1. Kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal
Mahakudus adalah rumah joglo. Atapnya disusun menjadi tiga lapis. Tiga lapisan
atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
2. Kapel Para Rasul. Bangunan ini berada di sebelah utara goa. Ciri
bangunan: tiang terdiri dari tiga pilar, atapnya disangga oleh kerangka seperti
ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran yang dibuat
dengan model kolosium romawi. Tiang tiga pilar mencerminkan pokok iman
kristiani akan Allah Tri Tunggal. Kerangka penyangga mencerminkan eratnya
hubungan antara Allah Tri Tunggal dengan para Rasul. Kehidupan para Rasul
sangat bergantung pada penyangganya yaitu Allah. Atap terdiri dari 12 sudut
untuk menggambarkan Rasul Yesus yang berjumlah 12 orang.
3. Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong
dan ditandai dengan tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan
kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Harapannya Maria menjadi pelindung dan
pengantara bagi segala bangsa untuk bertemu dengan Tuhan.
4. Salib Milenium. Salip Milenium dipasang pada tahun 2000 sebagai
tanda mulainya milenium ke tiga.
Gaya bangunan Sendangsono mendapatkan penghargaan dari Ikatan Arsitektur
Indonesia. Penghargaan dikaitkan dengan kemampuan Rama YB. Mangunwijaya Pr
membangun dengan memperhatikan kelestarian lingkungan lingkungan (ramah
lingkungan).